Senin, 08 Juni 2020

Dampak Covid-19 Pada Ekonomi Indonesia

Virus Corona pertama kali terdeteksi di Wuhan, China, pada Desember 2019 lalu. Virus corona ini dengan sangat cepat menyebar ke berbagai negara, bahkan ke seluruh dunia tak terkecuali ke Indonesia. Pada 11 Maret lalu, World Health Organization (WHO) mengumumkan Covid-19 sebagai penyakit pandemi yang melanda dunia.

Di Indonesia, kasus pertama dan kedua Covid-19 diumumkan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret lalu. Kasus pertama dan kedua ini menimpa ibu dan anak berdomisili Depok yang tertular dari WN Jepang. 

Pengumuman ini cukup menghebohkan masyarakat Indonesia. Banyak orang yang mulai melakukan panic buying, memborong hand sanitizer dan masker, bahkan sampai menjual masker dengan harga yang sangat tinggi.

Hingga pada pertengahan bulan Mei kasus covid-19 terus meningkat bahkan pada 21 Mei 2020 tercatat sebanyak 973 kasus dalam satu hari. Angka tersebut sangat mengejutkan karena terjadi menjelang hari raya idul fitri. Dan tercatat 20.162 kasus Covid-19, 4.838 sembuh, 1.278 meninggal yang tercatat pada tanggal 21 Mei 2020. Hingga pada 2 Juni 2020 tercatat 27.549 kasus Covid-19, 7.935 sembuh dan 1.663 meninggal. Dan diperkirakan masih akan terus meningkat.

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menyampaikan bahwa sekitar 2.084.593 pekerja secara nasional mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan. Dari total tersebut, sebanyak 1.546.208 orang bekerja di sektor formal dan 538.385 di sektor informal. Menurut Kementerian Tenaga Kerja, sekitar 85 persen pekerja dirumahkan karena kantor/perusahaan mereka tidak beroperasi akibat penerapan PSBB oleh pemerintah setempat. Mayoritas pekerja tersebut bekerja di dalam bidang usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), pariwisata, transportasi, dan manufaktur. Selain itu, kebijakan karantina wilayah/lockdown di negara lain juga ternyata memengaruhi berbagai unit usaha di Indonesia karena berbagai perusahan tersebut kesulitan mengimpor bahan baku produksi dan mengekspor hasil produksi ke berbagai negara lain.

Dampak ekonomi pandemi COVID-19 tidak berhenti di situ. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan beberapa skenario ekonomi nasional dalam situasi pandemi COVID-19 dewasa ini. Sebelum pandemi, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi domestik dalam APBN 2020 sebesar 5,3 persen. Proyeksi tersebut dapat berubah menjadi 2,5 hingga -0,4 persen dengan tingkat inflasi di antara 3,9 dan 5,1 persen setelah menghitung perkiraan dampak pandemi di Indonesia.

Selanjutnya, SMERU Research Institute (2020) baru-baru ini merilis hasil simulasi dampak pandemi COVID-19 terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia. Berbeda dengan proyeksi ideal pertumbuhan ekonomi tahun 2020 sebesar 5 persen, kajian tersebut menerangkan bahwa angka itu akan turun dari 4,2 hingga 1 persen karena dampak penyebaran COVID-19. Jadi, jika pertumbuhan ekonomi di Indonesia hanya terkoreksi menjadi 4,2 persen, tingkat kemiskinan berada di kisaran 9,22 persen hingga 9,71 persen. Artinya, jumlah orang miskin Indonesia kemungkinan akan bertambah sebesar 1,3 juta atau total orang miskin menjadi 26,09 juta. Jika ekonomi hanya tumbuh antara 1,2 dan 1 persen, tingkat kemiskinan diperkirakan menanjak antara 12,21 hingga 12,37 persen. Jumlah orang miskin naik sebanyak 8,03 hingga 8,45 juta atau total orang miskin di Indonesia menjadi antara 32,82 dan 33,24 juta.

Melihat situasi dan proyeksi ekonomi tersebut, pandemi COVID-19 tampak telah jauh berkembang dari suatu krisis kesehatan yang perlahan bereskalasi menjadi krisis sosial–ekonomi.

Respon Domestik

Indonesia tergolong lambat dan sembrono dalam mencegah penyebaran COVID-19. Presiden dan pejabat tinggi negara cenderung menyepelekan dampak virus tersebut bagi masyarakat pada periode awal penyebaran, Januari–akhir Februari 2020. Pemerintah pusat lantas berupaya memperbaiki kekeliruan tersebut secara gradual, di antaranya dengan membentuk gugus tugas percepatan penanganan COVID-19. Setelah itu, pemerintah daerah juga berinisiatif menyiapkan fasilitas dan tenaga kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan pasien. Personel pertahanan dan keamanan pun mulai terlibat secara langsung dalam upaya mitigasi, misalnya pendirian rumah sakit khusus di DKI Jakarta dan Kepulauan Riau, penyediaan sarana transportasi dan logistik untuk distribusi alat kesehatan ke berbagai daerah, serta pengamanan fasilitas publik.

Pemerintah kemudian menyediakan stimulus ekonomi sebesar Rp 405,1 triliun yang terbagi dalam empat pos utama, yaitu: pembiayaan pemulihan ekonomi nasional (Rp 150 triliun), perlindungan sosial (Rp 110 triliun), belanja bidang kesehatan (Rp 75 triliun), dan insentif pajak termasuk stimulus kredit usaha rakyat (Rp 70,1 triliun).[5] Memasuki bulan April 2020, kebijakan lebih ketat menyangkut mobilitas penduduk diterapkan dan persediaan alat pelindung diri (APD) dan berbagai keperluan kesehatan lainnya makin ditingkatkan, baik melalui produksi dalam negeri maupun bantuan negara lain.

Meski ada perkembangan positif dalam penanganan COVID-19, seperti peningkatan pasien sembuh, usaha mitigasi yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah sejauh ini masih dipandang belum maksimal. Tingkat tes cepat di Indonesia masih tergolong rendah dibanding negara lain. Selanjutnya, tingkat kesiapan tenaga medis dan fasilitas kesehatan pun terus diuji karena pertambahan pasien dari hari ke hari.

Pemerintah dan institusi kepolisian juga dinilai telah bertindak represif dalam merespon protes-protes di media sosial mengenai penanganan COVID-19 di Indonesia. Selain itu, pemerintah dan parlemen pun dinilai telah “mengambil kesempatan di tengah kesempitan” karena membahas dan berencana mengesahkan RUU Ombibus Law Cipta Kerja. Padahal kalangan buruh dan koalisi masyarakat sipil menolak keras RUU tersebut.

Persepsi publik atas kinerja pemerintah dalam merespon pandemi COVID-19 juga ternyata tidak seluruhnya positif. Berdasarkan hasil survei SMRC, perbedaan antara responden yang menilai pemerintah telah bertindak “cepat/sangat cepat” dengan yang menjawab “lambat/sangat lambat” tidaklah terlampau jauh, yaitu 52% dan 41% dengan margin of error sebesar 2,9%.

Akhir kata, upaya mengisolasi pandemi COVID-19 dan mencegahnya bereskalasi menjadi krisis keamanan serta politik merupakan tugas bersama pemerintah dan masyarakat. Hal yang patut digarisbawahi adalah pemerintah mesti menerapkan kebijakan yang proporsional dalam menangani keluhan dan kritik dari masyarakat. Pendekatan persuasif dan legal-berkeadilan mesti lebih diutamakan daripada tindakan koersif.

Senin, 13 April 2020

UTS DOKUMENTASI DAN PERPUSTAKAAN

Nama : Seha Nabilah
Kelas : PB 2C
NIM : 1906321106
Pelajaran : Dokumentasi dan perpustakaan

1.  Menurut Saya, dokumen secara fisik dan tekstual adalah dokumen yang menyajikan informasi dalam bentuk  dicetak, ditulis, digambar atau direkam. Sedangkan bentuk fisiknya menyangkut materi ukuran, berat, tata letak, sarana, prasarana, dan lain sebagainya.
Misalnya : majalah, buku, catalog, surat kabar, dan lain-lain. 

2. Dokumen  adalah  suatu yang  tertulis  dan  tercetak yang  dapat  digunakan  untuk  bukti  atau  keterangan. Dokumen-dokumen  itu  perlu  didokumentasikan. Dokumentasi  merupakan  usaha untuk  melakukan pengumpulan,  pemilihan,  pengolahan,  dan penyimpanan informasi dari berbagai bidang atau pemberian atau juga pengumpulan bukti dan keterangan-keterangan seperti gambar, kutipan, guntingan koran, bahan referensi, dan lain-lain. Dokumen sifatnya sudah tidak aktif digunakan dalam proses penyelenggaraan administrasi sehari-hari masih diperlukan sebagai bahan pertanggungjawaban, bahan penelitian, dan sebagai bukti historis.

3.Dokumen adalah surat-surat atau benda-benda yang berharga, termasuk rekaman yang dapat dijadikan sebagai alat bukti untuk mendukung keterangan supaya lebih meyakinkan.

Dokumentasi adalah kegiatan mencari, mengumpulkan, menyusun, menyelidiki, meneliti dan mengolah serta memelihara dan menyiapkan dokumen baru sehingga lebih bermanfaat.

4. Dokumen  adalah  suatu yang  tertulis  dan  tercetak yang  dapat  digunakan  untuk  bukti  atau  keterangan. Dokumen-dokumen  itu  perlu  didokumentasikan. Dokumentasi  merupakan  usaha untuk  melakukan pengumpulan,  pemilihan,  pengolahan,  dan penyimpanan informasi dari berbagai bidang atau pemberian atau juga pengumpulan bukti dan keterangan-keterangan seperti gambar, kutipan, guntingan koran, bahan referensi, dan lain-lain. Dokumen sifatnya sudah tidak aktif digunakan dalam proses penyelenggaraan administrasi sehari-hari masih diperlukan sebagai bahan pertanggungjawaban, bahan penelitian, dan sebagai bukti historis.
Arsip  adalah  rekaman  kegiatan  atau  peristiwa  dalam berbagai bentuk  dan media  sesuai  dengan  perkembangan  teknologi informasi dan komunikasi. Arsip  tidak  hanya  berupa  dokumen  berbentuk  kertas  tunggal maupun kelompok tapi juga berupa rekaman informasi dalam berbagai  media  sesuai  dengan perkembangan zaman,  semisal kaset,  CD/DVD,  atau  media  lainnya sesuai  dengan perkembangan  zamannya.  Dan  untuk  penyerahan  arsip  itu  sendiri  tidak harus dari suatu badan atau organisasi baik pemerintah maupun swasta tapi bisa juga dari perorangan. Arsip masih digunakan untuk melaksanakan pekerjaan sehari- hari baik sering maupun hanya jarang.

5. Dengan menampilkan dokumentasi peristiwa lampau yang seutuhnya, dan menjelaskan keterkaitan antara peristiwa sekarang dan peristiwa masa lampau tersebut. Dengan  begitu, kita dapat menemukan persamaan dan perbedaan dari peristiwa yang sama tersebut.

6. Banjir Yang Menimpa Jakarta
DKI jakarta sudah tidak asing lagi terkena banjir. Namun dalam banjir yang dimulai pada awal tahun 2020, banyak yang memperbaiki kinerja Gubernur DKI saat ini, Anies Baswedan. Khususnya, membandingkannya dengan apa yang terjadi di era Basuki Tjahaja Purnama. BTP dianggap lebih berhasil menyetujui Anies.
Salah satu yang viral di media sosial adalah gambar yang menunjukkan sebaran titik banjir di era Jakarta Anies dan BTP. Pada era BTP tergambar peta Jakarta dengan beberapa titik merah tanda banjir. Pada era Anies titik hanya satu, tetapi itu sangat besar sampai-sampai seluruh Jakarta.
Selain oleh warganet, kritik juga disampaikan Ketua Fraksi PDIP di DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono. Ia meminta Anies meminta sistem penanganan banjir era BTP.
Faktanya, pada era BTP pun terjadi banjir. Saat BTPinta gubernur pada 2014 , termasuk 688 Rukun Warga (RW) yang terendam, dengan jumlah pengungsi mencapai 167.727 orang. Sebanyak 23 korban meninggal dunia.
Pada 2015, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB), terdapat 702 RW yang terdampak banjir dengan jumlah pengungsi 45.813 orang. Korban meninggal sebanyak 18 orang, atau lima angka lebih sedikit daripada tahun sebelumnya.
"Pada tahun ini, volume udara mencapai 10 hingga 200 cm," tulis data rekapitulasi banjir Januari 2015.
Setahun kemudian, banjir berkurang. Tercatat ada 460 RW terdampak banjir dengan jumlah pengungsi berkurang enam kali lipat menjadi 7,760 orang. Banjir yang biasanya bisa bertahan hingga satu minggu pun menjadi cepat surut dengan waktu maksimum genangan dua hari.
Pada 1 Januari hingga 16 Oktober 2017 (sebelum BTP diganti wakilnya, Djarot Saiful Hidayat), banjir diterima menggulung 375 RW, sementara jumlah pengungsi sebanyak 9.100 orang yang tersebar di banyak posko.
BTP mengatakan titik rawan banjir hanya 80 Februari 2017. Ini adalah perkiraan karena "2.200 lokasi banjir waktu kami (BTP dan Joko Widodo) baru masuk (dibahas Gubernur-Wakil Gubernur DKI)." "Terus tahun lalu tinggal 400an titik banjir. Bulan ini, sebelum naik lagi, tinggal 80 titik saja."
Teguh Hendrawan, saat diangkat Kepala Dinas SDA DKI, mengatakan "titik rawan terjadi di kawasan yang dilewati sungai atau saluran yang belum dilewati proyek normalisasi." Misalnya Kampung Melayu.
Memasuki masa pemerintahan Gubernur Anies Baswedan pada tahun 2018, BPBD DKI Jakarta mencatat ada 46 banjir yang diterbitkan 15.627 warga menyetujui mengungsi.
Sepanjang 2018, banjir terjadi di 30 kecamatan, 63 kelurahan, dan 217 RW. Jakarta Barat terdampak paling banyak, berhasil 78 RW. Sementara Jakarta Selatan 64 RW, Jakarta Timur 58 RW, Jakarta Utara 11 RW, dan Jakarta Pusat 6 RW. Ketinggian air 5 hingga 300 sentimeter.
Banjir kembali terjadi pada April 2019. Banjir yang memperoleh kembali permukiman di Jakarta Timur dan Selatan karena meluapnya Sungai Ciliwung menjadikan 2.942 warga dapat mengungsi.
Berdasarkan data BPBD DKI, daerah terdampak banjir terdiri dari 18 titik, terdiri dari 4 titik di Jakarta Selatan dan 14 titik di Jakarta Timur.
"Dengan ketinggian banjir berkisar antara 5 cm hingga 175 cm," tulis laman dari BPBD DKI Jakarta.
Akibat banjir tersebut, pada 26 April 2019, ada satu orang mati dunia akibat terseret arus Kali Ciliwung di Kelurahan Kebon Baru Jakarta Selatan.

Perbedaan Solusi
Solusi paling kentara yang ditawarkan oleh BTP adalah normalisasi kali dan waduk.
"Kalau hujan deras terus-menerus, harus sediakan wadah atau tampungan udara yang lebih besar. Sungai dan waduk harus diperlebar lagi," ujar dia sebuah kompilasi.
BTP mengatakan sungai semakin menyempit karena banyaknya bangunan 'pembohong'. Karenanya normalisasi kerap 'satu paket' dengan penggusuran warga.
Setelah penggusuran, daerah aliran sungai itu lalu dilebarkan dan dibeton.
Salah satu yang membantah normalisasi adalah Kampung Pulo. Tapi normalisasi gagal, terbukti pada awal 2020, lokasi ini terhindar dari banjir .
Sementara Anies, sejak kampanye, sudah mendapat kritik mengkritik kebijakan normalisasi BTP. Bagaimana cara mencegah banjir dengan membuat drainase vertikal - saluran yang membuat langsung masuk ke tanah.
"Jakarta bisa terbebas banjir karena drainase vertikal, bukan drainase horizontal," ucap Anies, 16 Februari 2017.
Upaya lain Mengatasi banjir adalah dengan program naturalisasi sungai. Gagasan utama program itu bukan membeton sungai seperti normalisasi, tetapi menghidupkan ekosistem di sekitarnya.
Namun program tersebut tak kunjung terealisasi. Banjir akhirnya datang lagi.
Per Rabu (1/1/2020) malam, posko banjir Jakarta mengantarkan 31.232 pengungsi. Mereka tersebar di Jakarta Pusat sebanyak 310 orang, Jakarta Utara sebanyak 1.515 orang, Jakarta Barat 10.686 orang, Jakarta Timur 13.516 orang, dan Jakarta Selatan 5.305 orang.
Mungkin karena tidak berjalannya program menghadapi banjir era Anies, seperti yang disebut DW , adalah " banjir terburuk yang melanda ibu kota Indonesia sejak 2013."
Namun, era yang perlu direkam, Anies dan BTP berbeda zaman. BMKG mengatakan Curah hujan awal tahun 2020 "sangat ekstrem." Rata-rata Hujan pada 1 Januari kemarin jadi yang tertinggi sejak 24 tahun terakhir.

Selasa, 22 Oktober 2019

Teknik Observasi dan Wawancara : Analisis Berita

Berita 1

Menteri Terbaik Indonesia Maju
sumber : Sindo, Dita Angga/ kuanthi fahmar sandy/ hisnwondari/ahmad antomi

Fakta Peristiwa : JAKARTA- Jokowi dalam pidatonya seusai pelantikan sebagai Presiden yang digelar  di MPR menyampaikan mimpi Produk Domestik Bruto (PDR) RI pada 2045 mencapai U$D7Trilliun, yang menempatkan negeri ini masuk lima besar ekonomi terbesar dunia dengan angka kemiskinan mendekati 0%

Fakta Pendapat : Siapa saja yang bakal menjadi penggawa membantu Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin dalam menjalankkan pemerintahan selama lima tahun ke depan.puzzle tersebut satu persatu terbongkar seiring dengan kehadiran sejumlah nama ke istana memenuhi pnggilan jokowi.


Berita 2

Angin Kencang-Suhu Ekstrem Hingga Akhir Oktober
Sumber : Sindo,Yuswantoro/lukman hakim/ binti mufarida

Fakta Peristiwa : BATU- Angin kencangsejak Sabtu (19/10) malam hingga kemarin antara lain menerjang dataran tinggi di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Jawa Timur, angin kencang antara lain melanda Desa Sumberbrantas , Sumbergando, Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota  Batu.

Fakta pendapat : Terik panas saat perubahan cuaca ekstrem ini awan menimbulkan gangguan kesehatan.



Berita 3

JackMa Sanjung Kontribusi Pekerja Perempuan
Sumber  : SINDO, muh shamil


Fakta Peristiwa :SINGAPURA- Pendiri Alibaba Group Hedding Limited, JackMa, menyanjung kesabaran, ketekunan, loyalitas, dan perjuangan pekerja perempuan di perusahaannya.

fakta pendapat : JackMa  mengatakan kaum hawa menjadi motor penggerak kemajuan Alibaba, terutama melewati berbagai rintangan selaa 20 tahun terakhir.

reminder

bagaimana bisa seseorang jatuh cinta karena parasnya ?
lalu, bagaimana ia bisa mencintai Tuhannya padahal belum pernah melihatnya ?